Kisah Pilu! Wanita Ini Kehilangan 3 Anak Sekaligus Hanya Dalam Waktu 4 Tahun

Anak bagaikan harta yang ternilai yang dititipkan tuhan untuk manusia.

Kehilangan anak, orangtua mana yang tidak merasa hancur?

Apalagi jika anak tersebut begitu diidam-idamkan kehadirannya.

Perasaan hancur karena kehilangan anak kandung juga pernah dialami oleh wanita cantik bernama Trias Dwi Panca ini.

Tak hanya sekali, ia bahkan harus mengalami 3 kali kehilangan.

Kisah menyentuhnya itu kemudian diceritakan oleh seorang pengguna Facebook bernama Prasetiawati Wahyu.

Diposting pada 14 Juli 2017 kemarin, cerita itu kini menjadi viral dan telah dibagikan hingga 30 ribu kali lebih.

Simak, berikut kisahnya:

"Ketika kamu sedikit lelah menjadi seorang ibu, bacalah ini.

Kisah nyata dan sudah di acc oleh Trias Dwi Panca untuk ditulis. Feel free for like and share.

Sepasang Sayap yang Menunggu Bunda di Surga

Kata orang, rasanya kehilangan buah hati adalah seperti hilang separuh nyawa. Mereka bohong, karena rasanya lebih sakit daripada itu.

Aku gila saat kehilangan Kevin, anak pertamaku, anak lelaki yang ditunggu oleh segenap keluarga.

Waktu pertama mengetahui kalau aku hamil, aku sangat bahagia. Suamiku tidak pernah berhenti mencium perutku setiap hari.

Semua vitamin yang dokter berikan, susu hamil, dan lainnya tidak pernah telat aku konsumsi.

Aku dan sepupuku suka menghayalkan bagaimana saat Kevin nanti sudah besar dan bersekolah, diantar sama budenya, minta uang jajan sama bundanya. Pokoknya banyak hal yang akan kami lakukan bersama.

Hari itu tepat tanggal 9 juni 2013 di kehamilan 40 minggu tiba-tiba keluar flek, aku buru buru ke klinik tapi dokter bilang tidak apa apa dan aku disuruh pulang lalu kembali ke klinik kalau kontraksi sudah per 5 menit sekal.

Tanggal 11 Juni 2013 jam 09.00 pagi mules sudah 5 menit sekali. Aku kembali ke klinik dan di cek ternyata masih pembukaan 1.

Konsultasi dengan dokter dan akhirnya menempuh jalan induksi. Jam 12.00 siang pecah ketuban, jam 15.00 aku sudah tidak tahan sakit luar biasa dan aku minta sesar saja.

Namun belum sempat disesar ternyata kepala Kevin sudah nongol. Aku disuruh mengejan, dan di tarikan nafas ke tiga Kevin Lahir.

Tapi, kenapa ia tidak menangis?

Dokter dan bidan segera melakukan tindakan, mulut Kevin disedot, tubuhnya dibolak balik, sambil mereka menyuruhku untuk berdoa yang banyak.

Selama 45 menit yang selalu terpatri dalam otakku sampai sekarang, Kevin akhirnya pergi dengan kondisi tali pusat masih menyatu denganku, bundanya.

Aku? Menangis histeris sejadi- jadinya. Kevin dibungkus kain dan suster menyuruhku memeluknya. Aku peluk Kevin erat, tak kubiarkan suster mengambil Kevinku.

“Suster.!! Susteerrr minta baju..!! Anakku kedinginan..!!” teriakku

Semua orang yang datang ke klinik aku mintai tolong untuk mengambilkan baju untuk Kevin tapi mereka hanya menangis.

Aku menangis dan entah apa yang bisa aku katakan untuk melukiskan kesedihanku, aku benci mendengar suara tangis bayi di ruang bayi sebelahku. Jadi aku minta pulang saja ke rumah.

Aku masih belum bisa menerima kenyataan, otakku mulai menggila.

Kain gendongan bayi aku lilit lilit, aku pakaikan baju anak, aku gendong, setiap pagi aku jemur di depan rumah dan aku nyanyikan lagu anak anak. AKU BETUL BETUL JADI GILA KARENA KEHILANGAN INI.

Setiap aku mau tidur aku mengusir suamiku dan menaruh lilitan boneka di sampingku.

Sampai suatu saat suamiku mulai merasa muak dengan tingkahku dan berteriak di hadapanku

“Kalau lo gini mulu gue bisa ikutan gila..!! Kita gila bareng..!!” dan kami berpelukan menangis berdua. Ini berat sekali, kami harus lalui bersama.

Sejak saat itu kami jadi sering pergi keluar, kami habiskan waktu dengan jalan jalan agar aku tidak bertambah gila. Semua friendlist, teman temanku yang punya anak, suka upload foto bayi,aku unfriend semuanya. Semuanya.

Aku baru bisa benar benar bangkit setelah 3 bulan. Tiga bulan setelah kehilangan Kevin benar benar jadi hari yang paling buruk untukku.

Tepat empat bulan setelah itu, aku ternyata hamil lagi. Alhamdulillaaahh aku bahagia sekali, aku sudah move on dan sungguh bersyukur.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel